PKL PMII Depok Perluas Cara Pandang Kader
DEPOK — Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Depok menggelar Pelatihan Kader Lanjut (PKL) pada 5–9 Agustus 2026 di Pusdiklat Kementerian Agama RI. Kegiatan yang mengangkat tema “Empowering Professional Cadres: Strengthening Integrity, Competence, and Transformative Leadership” tersebut diikuti sekitar 26 peserta dari sejumlah cabang PMII kabupaten atau kota di Indonesia.
Rangkaian pelatihan tidak berhenti pada materi kaderisasi organisasi. Para peserta diajak membaca persoalan sosial dan kebangsaan dari berbagai sudut, mulai dari geopolitik, pembangunan daerah, perkembangan teknologi, hingga strategi advokasi dan pendampingan masyarakat.
Materi yang diberikan cukup beragam. Peserta membahas Manhajul Fikri li Ahlissunnah wal Jamaah, Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII, strategi pengembangan kaderisasi dan manajemen keorganisasian, serta strategi dan taktik gerakan dan kepemimpinan PMII.
Pembahasan kemudian berkembang ke isu-isu yang lebih luas, seperti geostrategi, geoekonomi dan geopolitik, ilmu intelijen, antropologi dan sosiologi masyarakat Indonesia, IPTEK dan perubahan sosial, serta analisis kebijakan dan orientasi pembangunan daerah.
Pada sisi lain, peserta juga mendapat materi mengenai advokasi dan strategi pendampingan masyarakat, strategic planning dan strategic management, teknik lobi dan membangun jaringan, hingga peran pemuda dalam pembangunan bangsa. Isu gender juga menjadi bagian dari pembahasan melalui materi Gerakan Perempuan Aswaja An-Nahdliyah, pengarusutamaan gender, dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs).

Sejumlah narasumber mengisi rangkaian pelatihan tersebut, di antaranya Dr. KH. Hadi Prayitno, M. Ainul Yaqin, S.Pd.I., M.Pd., Agus Fuat, S.Hum., Dr. H. Basnang Said, M.Ag., Ibrahim Kholilul Rohman, Ph.D., Ahmad Luthfi, S.Hum., M.B.A., H. Dendy Zuhairi Finsa, S.H., M.H., Sumantri Suwarno, S.E., KH Robikin Emhas, S.H., M.H., Dr. Muhammad Kholid Syeirazi, M.Si., Erwin Kusuma, Septi Rahmawati, M.Pd., dan Heri Hep Cakra, S.Hum.
Dalam salah satu sesi, K.H Robikin Emhas, S.H., M.H. menekankan pentingnya menjaga niat dalam proses mencari ilmu. Menurutnya, belajar di mana pun pada akhirnya harus tetap diarahkan untuk mencari Ridho Allah. Di saat yang sama, ia juga menekankan pentingnya profesionalitas, terutama ketika kader mulai memasuki dunia kerja.
Juga datang dari Sumantri Suwarno, S.E. Ia mengingatkan peserta agar tidak menganggap enteng urusan orang lain. “Kalian boleh menggampangkan urusan diri sendiri, tapi jangan pernah menggampangkan urusan orang lain,” ujar Sumantri.
Pembicaraan mengenai aktivisme juga tidak berhenti pada aktivitas organisasi. Peserta diajak melihat pengalaman menjadi aktivis sebagai proses untuk membangun kapasitas kepemimpinan dan memperluas pilihan hidup. Menjadi aktivis, dalam salah satu pesan yang disampaikan selama pelatihan, bukan sekadar soal aktif dalam organisasi, tetapi juga tentang mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang memiliki banyak pilihan.
Muhammad Oki Mabruri, salah satu peserta dari PC PMII Jember, rangkaian materi dalam PKL membuat cara pandangnya terhadap gerakan mahasiswa menjadi lebih luas. Gerakan tidak lagi hanya dilihat dari aktivitas organisasi, tetapi juga dari keterkaitannya dengan kebijakan publik dan persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Bagi saya pribadi, poin paling berharga dari PKL ini adalah bagaimana kita diajak untuk mensinkronkan nilai-nilai dasar pergerakan (NDP) dengan realitas kebijakan publik hari ini. Pelatihan ini mematangkan cara pandang kami, bahwa kader PMII harus siap turun tangan, menjadi mitra kritis, sekaligus problem solver dalam mendampingi masyarakat,” ujar Oki.
Menurut Oki, salah satu hal yang paling terasa setelah mengikuti pelatihan adalah perubahan cara membaca gerakan mahasiswa. Pemahaman mengenai NDP tidak hanya ditempatkan sebagai landasan nilai, tetapi juga perlu diterjemahkan dalam membaca persoalan yang lebih luas. Pengetahuan tentang geopolitik, intelijen, kebijakan publik, gender, serta perubahan sosial dan teknologi menjadi bagian dari bekal tersebut.
PKL yang dipimpin Ketua Panitia Muhammad Rizky Haekal dan Ketua PC PMII Kota Depok Matahariku Mukhammad itu juga mempertemukan peserta dari latar cabang yang berbeda. Pertemuan tersebut membuat ruang pelatihan tidak hanya menjadi tempat menerima materi, tetapi juga ruang bertukar pengalaman dan cara pandang antarkader.
Pada akhirnya, tantangan bagi peserta bukan sekadar membawa pulang materi dari ruang pelatihan. Pengetahuan tersebut akan diuji ketika kader kembali berhadapan dengan persoalan di daerah masing-masing yakni membaca kebijakan, membangun jejaring, melakukan advokasi, dan mendampingi masyarakat tanpa meninggalkan nilai dasar pergerakan.
